Tuesday, June 17, 2008
Breaking The Chain (2)
"lenganmu kenapa, Sa?" tanyaku waktu itu. sejenak kulihat kekagetan di wajah gadis itu. lengan yang putih membuat memar itu terlihat sangat jelas.
"ehm, gpp kok, Na. cm kebentur tangga aja." jawab Sasa di tengah kegugupannya. entah kenapa aku menduga kalau ada kebohongan di dalam getar suara Sasa. tapi entah kenapa juga saat itu aku tak punya keberanian untuk memberitahu Alex tentang hal itu.
sejak saat itu, semakin sering aku melihat baik luka ataupun memar di tubuh Sasa. dan gadis itu selalu menyembunyikanya dengan berbagai macam alasan tentang luka2 itu. sampai suatu hari Alex menyadari ada bekas tamparan di pipi adiknya dan sudut bibir yang meninggalkan jejak darah kering. dan pertengkaran hebatpun terjadi. Alex yang sudah terpancing emosinya segera membuat Darma babak belur dengan sukses, sementara dua hari setelahnya Sasa meninggalkan rumah tanpa kabar. sampai hari ini.
"Lex...." panggilku setelah lama terdiam di ruang tunggu menunggui dua orang yang sama2 terbaring lemah.
"hmmm..." jawabnya
"sebenarnya ada apa sih dengan Sasa? maksudku, aku tahu ini kondisi yang buruk untuk Sasa, dan thanx God she is still alive. tapi pasti ada yg lebih dr itu hingga membuat mama menjadi begitu shock." Alex terdiam mendengar pertanyaanku.
"Sasa kehilangan bayinya sebelum kebakaran itu terjadi." jawab Alex lemah, "dan keguguran itu membuat kandunganya harus diangkat." aku terdiam. terhenyak mendengar kenyataan yang jauh di luar dugaanku. Sasa tidak hanya teraniaya. sebagai perempuan, dia hancur total. tiba2 sepasang air mata mengalir begitu saja di sudut mataku. air mata yang berisi segala rasa yang campur aduk setelah mendengar jawaban kekasihku. Lelaki di sampingku itu benar, Darma harus membayar semuanya.
Friday, June 13, 2008
Breaking The Chain
"pokoknya mama gak terima Lex, dia harus di hukum seberat beratnya! mama ga terima Sasa jadi begini." kata perempuan itu di tengah isaknya yang tak juga mereda sementara lelaki yang kukenal bernama Alexander itu hanya membelai pelan rambut perempuan dalam dekapannya.
sejenak aku menatap keduanya sebelum mataku bertemu dengan mata hitam lelaki itu. aku tahu, ditengah tubuh tegap yang kini mencoba tegar memeluk sang mama tercinta, lelaki itu menyimpan kepedihan yang sama sekaligus kemarahan yang aku tahu juga cukup mengerikan untuk mengirim seseorang ke kamar jenazah rumah sakit ini.
"siang tante, Lex, maaf baru bisa ke sini." sapaku pelan takut mengganggu pasangan ibu dan anak itu.
"Na..." hanya itu yang terucap dr bibir perempuan yang kukenal dengan nama tante Mia itu sebelum akhirnya perempuan itu pingsan di pelukan Alex.
"ini sudah ketiga kalinya mama pingsan sejak tadi pagi, Na. belau benar2 shock." kata Alex pelan di sebuah ruang perawatan tempat mamanya di rawat.
"bagaimana dengan Sasa, Lex?" tanyaku
"dy masih belum sadar sejak di bawa kemari. setengah dari tubuhnya menderita luka bakar serius." jawab lelaki itu dengan kepala menunduk dan tangan terkepal kuat. " bisa kamu bayangkan Na? Sasa dulu begitu cantik, tapi sekarang dia...." kalimat itu menggantung seiring tatapan matanya yang seolah menghujam ke mataku. tapi bola mata itu basah. basah oleh air mata kepedihan dan kemarahan yang amat sangat. akhirnya kupeluk juga lelaki yang sudah dua tahun menjadi lelaki yang paling dekat denganku setelah almarhum papa.
dan tangis itupun pecah di bahuku. tangis yang tak pernah sekalipun kulihat selama hampir tiga tahun perkenalan kami. "aku akan membuat perhitungan sama dy, Na! dy harus merasakan apa yang dirasakan Sasa!" bisiknya di tengah isakan tertahan itu.
aku mengenal Sasa dan keluarganya sekitar 3 tahun saat aku di semester akhir kuliah S1ku. dari Sasa juga aku mengenal Alex, kakak kandung semata wayangnya. Sasa juga yang dengan sekuat tenaga menjodohkan aku dengan Alex. aku mengenal mereka berdua sebagai pribadi yang kuat. Sasa memang sedikit manja pada Alex. wajar bagiku karena mereka hanya dua bersaudara. Sasa juga termasuk gadis yang cantik, dengan wajah tirus, bermata bulat hitam yang kontras dengan wajahnya yang putih. secara personal, Sasa juga gadis yang ceria, pandai bergaul, dan bukan tipe gadis yang pilih2. kekurangan calon adik iparku hanya satu, saat sedang jatuh cinta, dia menjadi benar2 bodoh.
(to be continue.....)
Monday, May 26, 2008
Cerpen Tanpa Judul
“Rhei!!!!” teriak seseorang mengagetkanku pagi itu begitu aku memasuki gedung kampus fakultas sastra di sebuah universitas negeri di
“gak” jawabku sembari menggelengkan kepalaku, “cuma mau ngumpulin paper analisis dari Pak Yan aja. Memangnya kenapa?”
“gak kenapa – napa, cuma tanya aja, aku juga mau ngumpulin paper ke meja beliau nih. Barengan aja yuk?” ajak pria itu. aku menganggukkan kepala dan memasuki ruang dosen kemudian keluar lagi setelah meletakkan paper itu di sebuah meja di ruangan itu.
“kamu ada kelas jam berapa Vid?” tanyaku sekedar basa – basi.
“masih ntar sih jam 11an. Kamu sendiri?”
“jam 9”
dan kemudian diam sampai tiba2 tidak ada hujan atau angin pria itu menarik pergelangan tanganku saat kami sampai di gazebo kampus. Kutatap pergelangan tanganku bergantian dengan wajah pria ini.
“aku pengen tanya sesuatu, dan aku rasa kita butuh duduk.” Katanya. Kuangkat sebelah bahuku dan mengarahkan kaki ke salah satu bangku panjang di gazebo yang masih sepi itu.
“ada apa?” tanyaku begitu kami duduk.
Lelaki itu menghela nafasnya dengan berat, seolah ingin melepas banyak sekali beban di pundaknya sebelum menatapku lekat – lekat. “kamu dan Abel masih jadian
“kamu ngjakin aku ngomong Cuma buat nanya itu doang? Aneh banget sih? Memang ada apa?” tanyaku balik. Kulihat lelaki itu resah. Beberapa kali disibakannya rambutnya yang sepanjang bahu.
“kamu lagi ada masalah ma dia?” tanyanya lagi yang membuat aku makin bingung.
“Vid, aku lagi g ada masalah ma Abel, kami baik – baik aja, tapi kamu malah bikin aku penasaran dengan pertanyaan – pertanyaan kamu, dan percaya deh, itu gak baik.
“aku……. Aku lihat Abel kemarin.” Kata pria itu setelah terdiam lagi lumayan lama. Aku tertawa. Benar benar tertawa.
“kamu ini Vid, mau ngomong itu aja kok serius banget.” Kataku, “trus kenapa kalau kamu lihat Abel?”
“masalahnya aku lihat dia di mall sama cewe, Rhei.” Jawab David pelan namun mampu membuatku terdiam. “dan kamu gak perlu cari pembelaan dengan mengatakan kemungkinan hubungan teman atau saudara Rhei. Apa yang aku lihat tidak seperti itu.” sekali ini aku benar – benar terdiam. Kutatap lelaki yang duduk disampingku itu dengan seksama berharap ada dusta di sudut matanya. Sekecil apapun tanda dusta itu, aku akan percaya. Tapi kenyataan sepertinya berbicara lain, tak sedikitpun ada kilatan canda di mata itu. David mengatakan kebenaran.
“Vid, seperti apa perempuan itu?” tanyaku setelah lama terdiam.
“kecil, putih, rambutnya panjang, dan agak – agak sexy gitu sih kostumnya.” Jawab David. Aku kembali terhenyak. Gambaran perempuan yang sama seperti yang diceritakan oleh beberapa orang sebelum lelaki ini.
Yach, memang bukan sekali ini aku mendengar Abel jalan dengan perempuan lain. Dan bukan sekali ini juga aku mendengar ciri – ciri yang sama dari gadis itu, dan entah kenapa aku masih menganggap itu sebagai hal biasa. Tapi pagi ini, ketika seseorang kembali mengungkapkannnya dengan lebih hati – hati, sejujurnya aku bimbang. Aku bimbang dengan kepercayaan yang sudah sekian lam kubangun untuk Abel. Kebimbangan yang membuatku memutuskan bahwa kami memang buth bicara. Abel berhutang penjelasan padaku.
“Sorry Vid, aku harus masuk kelas.” Bohongku, meski aku tahu pasti lelaki ini tahu betul kebohongan itu.di balik anggukan kecilnya yang mengiringi langkahku.
kuungkapkan juga rahasia itu
disela waktu yang mampu tercuri
meski hanya sejenak
dengan diam yang terus saja meraja
gadis…….
Semoga telinga membuka juga mata indahmu
Bahwa yang kau jaga tak lagi berharga
“Siapa perempuan itu, Bel” tanyaku saat berada di dalam pelukan Abel di kamar kosnya sore hari setelah pembicaraanku dengan David sekian jam sebelumnya .
“kamu ngomong apa sih Rhei? Perempuan yang mana?” tanya lelaki yang masih saja memelukku dalam dekapan lengan – lengan kekarnya.
“sudahlah Bel, aku sudah tau kok. Aku Cuma pengen tau siapa perempuan yang mampu membuatmu berpaling dariku.” Jawabku, “aku
“siapaun dia, percalah Rhei, dia bukan seseorang yang akan mengancam hubungan kita.” Bisik Abel di telingaku dengan dekapan yang makin erat hingga terasa menyesakkan.
“aku akan memutuskan itu nanti, sekarang aku cuma ingin tahu, siapa perempuan itu.” balasku. Abel membuang nafas.
“Maya. Namanya Maya.” Jawab Abel sesaat kemudian.
“sejak kapan?” tanyaku lagi
“gak pentng
“aku tanya sejak kapan?” tanyaku dengan nada lebih tegas diantara amarah yang mulai meletup dari ujung lidahku.
Sekali lagi Abel membuang nafas.
“6 bulan lalu saat kamu magang di
“kenapa?” tanyaku lagi
“karena aku kesepian, sementar kamu seolah bisa bertahan di
Giliranku menghela nafas antara kelegaan dan membuang amarah yang tak ingin kuledakkan. Pelan tapi pasti aku bangkit dari sofa bed tempat kami duduk. Kutatap lelaki di depanku dengan tatapan yang aku sendiri tak tahu apa artinya.
“Bel, kita putus!” kataku dengan jeda yg jelas dan ketegasan yang hanya keluar saat aku menahan amarahku. Dan aku berbalik mengacuhkan tatapan surprise Abel. Kuambil semua barangku, kubereskan diriku, dan beranjak ke pintu.
“asal kamu tau Bel, sejujurnya, hanya karena aku mengingatmu lah aku bisa bertahan di
Keputusan itu terlontar juga
Meski amarah itu tetap saja tertahan
Dan melodi kisah ini berujung juga
Pada titian coda
Menjadi epilog nada
Wednesday, March 12, 2008
Sendiri Bersama-Mu
"I miss you, babe." bisiknya di telingaku. kalimat itu memaksaku tersenyum. jujur kerinduan itu ada pula untuknya, tapi sepertinya itu tak cukup membuatku melakukan apa yang diinginkannya bahkan setelah tiga tahun dia meminta hal yang sama.
tiga tahun yang lalu. waktu yang tidak singkat untukku, dan mungkin juga untuknya. tiga tahun yang kami lewati diantara jejak perjalanan masing masing. aku dengan mimpiku, cita2ku, dan jalan hidup yang kupilih sendiri. sementara dia, sejujurnya aku tak tahu. aku bahkan tak tahu apa yang membuatnya kemabali. kembali ke kotaku, kembali menghubungiku, kembali pada meeting place kami, dan mencoba untuk kembali pada hidupku.
"Masih ingat aku babe?" begitu pertanyaan yang seminggu lalu terbaca di lcd nokiaku.
"iya, masih" jawaban smsku
"kupikir kamu sudah lupa. apa kabar?" tanyanya ketika akhirnya di merelakan pulsanya menelphoneku
"sebenarnya iya, tp ternyata aku masih simpan nomor kamu nih, lupa mau hapus. kabar baik. kamu sendiri?"
"aku baik, aku lagi di kota kamu nih."
"oh ya? dalam rangka apa?"
"ada kerjaan."
"oh." dan kami terdiam lagi (bodo amat, pulsa dia ini)
"aku kangen, babe." katanya lagi setelah lumayan lama pulsanya terbuang percuma
"oh ya?"
"iya" dan degup itu berkembang lagi. degub yang sudah mati tiga tahun lalu itu menerobos lagi tanpa permisi.
"so?" tanyaku mencoba membuat suaraku sedingin mungkin.
"kok kamu dingin banget gt sih?" tuntutnya. akh ternyata latihan teaterku berguna juga.
"akh biasa aja" jawabku sebiasa mungkin sambil mengontrol detak yg makin kurang ajar di dadaku
"ketemuan yuk babe" katanya manja. kemanjaan yang membuatku makin kangen padanya.
"aku lagi sibuk, ada banyak file yang kejar dead time."
"gak harus sekarang kok, week end ini aja."
"tapi............................"
"sudah lah babe, kamu gak mulai kerja week end kan sekarang?" aku diam saja, "I miss you, and I want to see you!" tegasnya. ketegasan yang menuntut dan selfish bagiku dan itu dia banget.
"aku gak tahu, kita lihat saja nanti." jawabku.
"pokoknya aku book meeting place kita, sabtu aku jemput jam tujuh, di rumah kamu." aku menghela nafas. dia tak juga berubah.
dan KLIK pembicaraan itu ditutup dengan seenaknya. tanpa pamitan seperti yang biasa dilakukannya dulu. datang tanpa undangan dan pergi tanpa pesan.
setelah pembicaraan gak lucu itu aku membuat diriku tak bisa tidur. lelaki itu ternyata masih begitu punya tempat di ruangan yang sudah ku bereskan, kututup, dan kukunci rapat rapat. sayangnya aku lupa mengganti kunci ruangan itu karena aku juga lupa dia masih menyimpan kuncinya. atau mungkin karena aku berpikir dia sudah membuang kunci itu di tengah perjalanannya yang entah kemana saja. dan minggu berlalu begitu saja sampai telphone berikutnya.
"i'm in front of your little palace." katanya di panggilan yang akhirnya kuangkat setelah tiga kali kuacuhkan.
"ok, I'll open the gate." jawabku.
"gak usah, aku dah buka sendiri. buka pintunya aja."
"ok." dan aku segera beranjak dr dudukku ke pintu yang jaraknya gak lebih dari dua meter.
"are you ready?"tanyanya begitu aku mebuka pintu. dan kulihat dia. masih setegap dulu dalam balutan jaket kulit hitam yang masih teringat jelas kapan dia memilikinya, brandnya, bahkan berapa harganya. di belakangnya terlihat sebuah thunder hitam.
"kamu naik motor?"
"kamu masih suka naik motor kan? tau sekarang sudah naik level ke mobil?"tanyanya.
"menurutmu?" tanyaku. lelaki berkacamata minus itu hanya angkat bahu.
"ayolah babe, kunci pintu rumahmu!" tuntutnya.
"tapi.........................." kalimatku menggantung sementara dia dengan tak sabar menarik tanganku dan mengambil kunci rumahku dari balik pintu.
dan disinilah aku. di dalam pelukannya sekali lagi. mencium arome tubuhnya sekali lagi. meneliti wajahnya lagi, dan berbagi hasrat bersamanya.
"Ray, " panggilku pelan setelah dia terbaring dalam pelukanku "kenapa kamu kembali?pasti bukan karena sekedar merindukanku kan? " lelaki itu membuka mata dan menatapku.
"pentingkah itu?"
"mungkin" dan dia menghela nafas
"kalau aku bilang aku ingin sekali lagi berjalan di sampingmu?" aku mengangkat bahu
"bagaimana dengan Ve? istrimu, ibu dari anak anakmu?"
"Ve akan mengerti, suatu saat dia akan mengerti." senyumnya.
"lalu dimana tempatku?"
"kamu cinta dalam hidupku, La. kamu akan menjadi istriku, kali ini menjadi halal bagiku." aku terpana. lelaki ini masih tak berubah juga.
"kamu tahu Ray? kepergianmu menyakitiku, kehadiran Ve juga menyakitiku, apa lagi pernikahanmu, dan setelah semua itu kamu masih berharap aku mau berjalan di sampingmu?kamu bercanda ya?" tanyaku tak percaya dengan ide gilanya.
"aku gak bercanda. dulu kamu tidak siap, fine aku mengerti, tapi sekarang kamu sudah dewasa, harusnya kamu sudah bisa melangkah lebih jauh bersamaku." katanya, "sudah lah jangan bicarakan ini lagi. aku ingin melepas rindu, bukan diskusi gak penting seperti ini." dan dia memulai lagi sentuhan itu di tubuhku.
entah dingin, entah hujan yang mulai menimpa atap cottage yang membuatku terbangun di dalam pelukan Ray. dan entah setan atau malaikat mana yang tiba2 memutar kembali dialog bodohku dengan Ray malam sebelumnya. kulirik jam di lcd hpku dan mulai mengetik barisan barisan kalimat di atas layar. send.search.ok. kubenahi diriku, dan kusambar dompet dan hp yang thanx God sempat mampir di kantongku. kubuka pintu cottage pelan dan muali melangkah menembus hujan yang mulai turun. sebuah taxi yang kebetulan lewat kupaksa berhenti dan merelakan tubuhku menggigil di dalamnya. tiba2 kalimat yang barusa masuk ke nomor Ray saat aku sampai di rumah kecilku terlintas di kepalaku.
"tiga tahun bukan waktu yang singkat Ray, karena waktu merubahku. aku bukan lagi Lala yang dulu kau lambungkan dan kemudian kau jatuhkan begitu saja. aku sudah membereskan ruangan yang dulu kau tempati, dan pagi ini kuncinya sudah kuganti. sudah pula kurelakan rasa sakit yang mebuatku belajar banyak dan membuatku belajar mendoakan yang tebaik bagimu. terima kasih untuk mencintaiku, untuk mencoba melangkah lagi dalam track kita, tapi kalau kamu punya aku, Ve hanya punya kamu. apa yang halal buatmu, adalah haram bagiku, dan kamu tahu itu dengan sangat pasti.semoga kamu selalu bahagia."
"esok mungkin tak ada seseorang di sampingku, tapi aku tak akan berjalan sendiri." dan kupandangi salib yang menghiasi dinding kamarku dan tersenyum. "ya, aku tak akan sendiri."
Sunday, May 27, 2007
Sahabat Hati (bagian 4)
Saturday, May 19, 2007
Sahabat Hati (bagian 3)
setengah jam berlalu seiring dengan berlalunya sebotol air mineral yang baru saja kubeli begitu turun dari bus tadi. aku masih saja menatap gerbang terminal Tirtonadi berharap Kris segera datang. dan Geee akhirnya doaku terkabul juga. lelaki yang kutunggu itu datang juga dengan motornya.
"maaf," ucapnya sambil menyeka keringat yang turun dari dahinya, "kelamaan ya nunggunya?" tanya Kris dengan rasa bersalah.
"gak pa pa, jalan aja yuk aku dah kepanasan nih." jawabku ringan. Kris mengangsurkan sebuah helm padaku dan membawaku ke kosnya di sekitar UNS yang ternyata lumayan jauh juga.
"ini kamrku," kata Kris begitu kami sampai di kamarnya yang tidak bisa dibilang luas, "aku tahu kamu capek, jadi istirahat aja dulu. kamr mandi ada di pojok situ," kata Kris sambil menunjuk pintu di pojok kamarnya, "kalau mau mandi, mandi saja dulu. aku mau cari makan buat kita berdua." aku memasuki kamar yang full bau rokok dengan kertas gambar berserakkan dimana mana. satu satunya tempat yang terlihat lumayan rapi hanya tempat tidur dan meja komputer. "aku tinggal dulu ya?" aku mengangguk semntar Kris meninggalkanku.
dia benar benar datang. Vi benar benar datang. dia menelphoneku setengah jam yang lalu dan memaksaku menjemputnya. well, sebenarnya tak perlu di paksa juga aku pasti menjemputnya. aku tahu Vi menepikan banyak hal saat datang ke kota ini. dan aku bisa dengan pasti menyebutkan hal hal itu satu persatu mulai dari egonya, kekasihnya yang pasti berharap bisa menghabiskan hari bersamanya, pekerjaannya, dan banyak hal lainnya. aku tahu dan aku menghargai itu, aku hanya terkejut melihat Vi benar benar ada di sana, duduk di sebuah bangku di sudut Tirtonadi yang panas.
akhirnya aku setelah setengah jam perjalanan balik dari Tirtonadi, aku membiarkan Vi melihat sendiri betapa berantakkan kamarku. tidak seperti perempuan perempuan lain yang masuk ke kamar ini, perempuan satu ini tidak berkomentar sekata pun. dia hanya memasuki kamarku, mencoba mencari tempat untuk duduk sambil memandang sekeliling ruang itu. dia bahkan masih saja berkeliling memandang kamarku saat aku meninggalkanya untuk mencari makan siang untuk kami berdua.
Kris sudah kembali saat aku keluar dari kamar mandi super kecilnya. lelaki itu sudah duduk di atas tempat tidur sambil membuka bungkusan bungkusan makanan yang entah dibelinya dari mana.
"makan dulu Vi," kata lelaki itu sambil mengulurkan sebungkus nasi dengan ayam panggang tanpa sayur. aku tersenyum melihat lelaki ini masih ingat hoby makanku yang sangat dibencinya.
"kamu sendirian tidur di sini Kris?" tanyaku di tengah makan siang kami yang di jawab dg anggukkan kepala lelaki itu.
"iya, tahu sendiri aku gak bisa punya teman sekamar, apa lagi dengan segala kekacauan ini." jawabnya. aku tersenyum lagi.
"sadar ya kalau kamarmu tuh lebih mirip sisa bencana alam dari pada kamar?" ejekku sambil berdiri untuk membuang sampah makanku dan mencuci tangan.
"sama kan ma hidupku? berantakan," jawab Kris acuh tapi membuatku sempat terdiam. aku menghela nafas antara lelah dan sedih.
"kamu sendiri kan yang bikin hidupmu kacau balau? aku kan dah bilang sebelum kamu pergi, tapi kamu juga yang nekat." jawabku sedikit acuh. Kris tersenyum menatapku dan meletakkan bungkusan yg sudah habis isinya sejak tadi.
"aku kayak anak kecil ya Vi?" tanyanya pelan
"iya, kamu memang seperti anak kecil," jawabku, "kamu itu seperti anak kecil nakal dan ngeyelan. orang sudah kasih tahu kamu, 'Kris jangan ke sana, nanti kamu jatuh' ketika anak lain mundur kamu gak, kamu maju aja dan tetap melakukan yang kamu mau, dan see??? kamu jatuh. baru kamu mundur lagi." tambahku panjang lebar hingga membuat Kris termangu.
"aku segitunya ya Vi? aku benar2 bertingkah se childish itu ya?" tanya Kris pelan sementara aku mengangguk mendengar pertanyaan itu. "maaf ya Vi?" katanya kemudian
"yach mau gimana lagi, yang penting kamu kembali. " jawabku. kami tersenyum. aku tahu lelaki di depanku ini menyesali atas apapun yang sudah terjadi. tapi kami berdua sama sama tahu, itu lah proses yang harus kami jalani.
"Vi......" panggil Kris tiba2 ditengah diam yang kemudian mengikuti percakapan kami
"hmmm???" responku
"boleh gak aku nyandar di bahu kamu?" pintanya. aku mengerutkan kening sejenak tapi toh mengangguk juga. dan seperti itulah dia terlelap hingga malam tiba.
aku terbangun dengan kepala di bahunya sementara Vi si empunya bahu masih membaca novel yang masih terlihat baru. nyaman sekali rasanya bisa tertidur selelap itu setelah entah berapa malam mataku tidak bisa di ajak tidur tanpa gangguan otakku yang menebar wajah Bintang dan Vi bergantian. aku menatap kosong ke depan saat Vi akhirnya sadar aku tak lagi terpejam.
"sudah bangun?" sapanya. aku mengangguk. gadis itu tersenyum.
"maaf ya, padahal kamu lagi capek." sesalku.
"that's ok." jawab Vi, "sudah berapa lama amu gak tidur?" tanyanya lagi. aku menggeleng tanda aku tidak tahu dan bangkit.
"aku mandi dulu ya Vi, habis mandi kita keluar makan." kataku yang di jawab dengan anggukannya lagi. gadis ini......... kok dulu aku tega menyakitnya??? batinku.
Sunday, May 13, 2007
Sahabat Hati (bagian 2)
sudah satu minggusejak aku melepas Vi pulang dari Ambarawa, dan sudah tiga hari aku pulang dari jogja. sisa tiga hari dari liburanku yang ternyata membuat otakku atau mungkin juga tidak berlibur sama sekali. dan seperti dua hari sebelumnya, aku kembali tenggelam diantara barang barang di dalam kamar 3 x 4 ini dengan sebatang AMlid di antara telunjuk dan jari tengah kananku. tikus komputerku masih saja bergerak tak tentu karena dan work sheet di layar kompieku masih saja kosong.
"Brengsek!!!!" umpatku dalam hati pada otakku yang ngambek bekerja justru saat aku ingin bekerja. si tikus kompie di genggamanku masih saja berputar putar tak tentu letila akhirnya berhenti start icon. aku menyerah. sambil menghela nafas ku klik juga icon itu dan menengok recent documentku. kubuka satu persatu hingga akhirnya aku menemukan satu satunya foto di situ. fotoku dan Vi beberapa minggu lalu. aku menekuri foto itu seiring dengan masuknya nama gadis itu di benakku.
Vi.......... apa dia masih akan membiarkan aku kembali setelah membuatnya menangis? setelah aku nyaris menganggapnya tidak ada? masihkah aku layak berhadapan dengannya dan menempati ruang persahabatan itu? aku ragu. tapi................... Shit!!!!!! aku butuh Vi sekarang. dan ibu jariku sudah menekan no Hp Vi dengan otomatis.
"Hallo?" sapa Vi di ujung sana wajar kalau nada tanya itu terdengar karena aku memang menggunakan private number. sejenak aku terdiam. suara yang aku rindukan itu terdengar. suara yang selalu saja bisa membuatku menyakin apapun yang aku lakukan dan selalu mendukungku, kecuali bila itu berurusan dengan Bintang tentunya.
"Vi, ini aku" jawabku akhirnya. aku tak mendengar apa apa. yang ada hanya nafas Vi yang tertahan. "Vi????"
"Iya, aku disini." jawab Vi akhirnya "kamu baik baik saja?" tanya Vi setelah lumayan lama terdiam lagi.
"Gak juga," jawabku tanpa basa basi sedikitpun karena memang gak butuh, "Bintang itu tetap saj tidak tergapai Vi, aku..............." kalimatku menggantung dalam diam lagi.
"kamu mau ke sini atau aku yang ke Solo?" tanya Vi saat aku terdiam.
"Terserah kamu." jawabku
"Ok, besok aku ke sana, jemput aku di terminal!" jawab Vi dengan ketegasan yang tidak biasa ku dengar tapi tidak membuatku heran. gadis ini selalu tahu ap yang aku butuhkan dan entah bagaimana aku tidak pernah bisa menyembunyikan apapun darinya.
sudah hampir tengah malam ketika ring tone Evanesence memnuhi kamar tidurku. aku mengerutkan kening saat melihat tulisan Privat Number yang muncul di LCDku. manusia mana sih yang iseng malam2 begini? runtukku dalam hati meski aku jawab juga telphone itu.
"Hallo?" sapaku seperti biasa. aneh, tak ada suara, sampai akhirnya aku mendengar suara Kris di seberang sana. lelaki ini............. entah bagaimana aku selalu tau ada yang tidak beres denganya hanya dengan mendengar suaranya. mungkin kerena kami sudah terlalu saling mengenal. dan perasaan itu benar saat dia menyebut nama Bintang yang membuatku memutuskan untuk ke Solo esok harinya. Thanks God, besok adalah day offku.
Thursday, May 3, 2007
Sahabat Hati (bagian 1)
malam sudah sangat larut ketika aku dan Kris duduk di sebuah artificial stone di tempat kami biasa bertemu. arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah melewati angka 12 terakhir kali aku melihatnya, hanya menunggu menit untuk berganti hari. dalam gelap aku tahu mata Kris masih menatap pada gelapnya malam yang menyelimuti kami, sementara aku sendiri masih saja memeluk lututku sendiri.
"jadi kamu akan tetap pergi nanti?" tanyaku sekedar memecah sunyi yang sejak tadi menggantung.
"jangan mulai perdebatan ini lagi Vi. aku harus pergi dan kamu tahu itu!" jawab Kris sedikit keras.
"aku gak tahu. yang aku tahu kamu gak harus pergi. yang aku tahu kamu masih butuh waktu untuk menyelesaikan ini. dan yang lebih aku tahu lagi adalah bahwa kamu gak berhak menyakiti diri kamu sendiri." balasku. tiba tiba ada sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak berhadapan dengannya malam itu.
"ayolah Vi. kita sama sama tahu aku harus menghadapi ini. kekosongan ini harus terisi, dan kita sama sama tahu hanya Bintang yang bisa mengisinya." aku menunduk mendengar bujukan itu. ada sebuah tanya yang aku sendiri takut mendengar jawabannya.
"bahkan kehadiranku juga gak bisa mengisi kekosongan itu?" Shit!!!!!! dalam hati aku mengutuk. akhirnya kutanyakan juga. dan aku bersiap mendengar jawaban apapun yang akan terucah dari binir yang kini menghisap sebatang rokok putih lagi.
"Vi, maaf ya?" hanya itu yang terucap. tiga kata yang mampu membuatku menitikkan air mata. Kris menatapku sejenak sebelum kembali menatap gelap. aku sendiri memalingkan wajahku sebisa mungkin menyembunyikan aliran air mataku sendiri. Brengsek!!!!!!! dia bahkan tak melakukan apa apa. sebegitu tidak berartinyakah aku untuknya? sialan cowo ini! kutukku dalam hati.
gadis itu masih memeluk lututnya sendiri setelah aku meminta maaf. aku tahu dia menyembunyikan air matanya meski aku terlanjur melihatnya. ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Vi bukan gadis cengeng. tapi hari ini air mata itu justru meluncur karena aku. aku tahu jawaban itu menyakitinya. tapi.............. Sial!!!!!!!!!!!! rasanya ingin sekali aku melakukan sesuatu untuk menenangkannya tapi gak tahu mesti berbuat apa.
"Vi, tenanglah, aku pasti kembali kok. aku janji." kataku akhirnya lebih dari sekedar menenangkan Vi, tapi juga menenangkan diriku sendiri.
"terserah!" jawab Vi singkat. aku tahu dy benar benar terluka dan lebih baik meninggalkanya sendirian saat ini, jadi kuputuskan untuk berjalan sejenak sambil menunggu matahari terbit yang akan memisahkan aku dan Vi.
akhirnya Kris pergi. aku tetap pada tempat semula. membiarkan diriku sendiri menangis dan membiarkan air mataku mengering dengan sendirinya. menunggu matahari terbit. ini pertama kalinya kami menikmati sunrise sendiri sendiri saat berada di tempat ini. rasanya sedih, sakit, dan marah bercampur jadi satu. dan itu menguras energiku dalam semalam. aku lelah. aku tahu aku harus istirahat, tapi sialnya sepasang mataku tak mau terpejam juga. brengsek!!!!!! kutukku lagi disela sela angin yang mengeringkan air mataku
sudah pukul lima lewat ketika aku kembali ke tempat Vi. diatas artificial stone itu aku melihatnya masih meringkuk. melihatnya seperti itu aku mulai kuatir atau lebih tepatnya ragu. ragu pada keputusan yang sudah kubulatkan lebih dari sebulan setelah melihat reaksi Vi semalam.
untuk orang orang yang tidak mengenal aku dan Vi, mungkin reaksi Vi akan di katakan berlebihan. apa yang salah kalau sahabatmu ingin menemui gadis yang dicintainya nyaris seumur hidupnya? tidak ada. tidak ada yang salah. yang salah adalah kalau gadis yang akan ditemui sahabatmu adalah gadis yang pernah menghancurkan hatinya dan merubah sahabatmu sama sekali. dan itulah yang dilakukan Bintang padaku.
aku mengenal Bintang jauh sebelum aku mengenal Vi. tapi anehnya Vi lah orang pertama yang menyadarkanku bahwa perasaan ini lebih dari sekedar persahabatan biasa. Vi yang membuatku menyakini cinta itu memang ada. Vi juga yang tetap setia mendengar aku bercerita tentang dia ketika teman temanku sudah mulai bosan. hingga pada akhirnya hanya Vi yang sanggup menemaniku saat Bintang itu tak tergapai. Vi juga yang masih bisa menenangkanku saat aku mulai sinis dan mulai kehilangan banyak hal. hanya Vi yang bisa melihat airmata yang tak mengalir itu. dan semalam dengan seenaknya aku bilang pada gadis itu kalau aku akan menemui Bintang hari ini dan membuatnya begitu tak berarti. tapi aku dan Vi juga sama sama tahu kalau suatu saat aku tetap harus bertemu dengan Bintang, mungkin untuk mencoba menggapainya lagi, tapi lebih dari itu, aku ingin memuaskan hatiku.
Vi bukan orang pertama yang mencoba mencegah kepergianku kali ini. sebelum dia, orang orang di sekitarku pun tak membiarkan aku pergi. tapi hanya Vi yang bisa mengatakan dengan pasti dan tepat bahwa aku pergi untuk menjemput kehancuran hatiku. well, aku sendiri kaget ketika dengan sinis aku berkata "mungkin" satu kata itu membuat Vi terdiam sejenak, tapi mungkin nada suarakupun ikut berpartisipasi mendiamkannya. kata berikut yang keluar dari bibirnya adalah "Bodoh!"
sudah pukul lima lewat ketika Kris kembali menghampiriku setelah entah dari mana? aku melihatnya dengan cukup jelas dari sudut mata yang mulai mengering. aku tahu dia tidak bermaksud menyakitiku tapi rasanya tetap saja....
"cari makan yuk Vi, aku lapar." kata Kris begitu dia cukup dekat dengan ku. aku hanya menganggukkan kepala dan bangkit dari dudukku. kami berjalan ke tempat kami biasa breakfast. selama makan kami hanya terdiam satu sama lain. hingga akhirnya aku menjadi jengah sendiri.
"Kris......." panggilku pelan
"hmmmm???" jawab Kris
"aku bisa pegang janji kamu???" tanyaku. Kris menatapku lekat lekat sebelum kemudian membuang nafas.
"selama kamu mengijinkan aku kembali, aku pasti kembali." jawab Kris. aku tahu ada ragu dalam suaranya, tapi entah lah, mungkin juga itu kareana raguku sendiri.
"kita lihat saja nanti. kamu gak akan pernah sama setelah pertemuanmu dgn Bintang kali ini."
"aku tahu."
"Ok, aku pulang dulu. good luck." dan aku melangkah. kali ini sendiri.
Vi melangkah meninggalkanku, sejenak ada rasa tak rela atas kepergiannya yang kali ini sendiri. biasanya aku mengantarnya sampai terminal kota, menunggu sampai bis itu membawanya pergi dari mataku. tapi saat ini, aku hanya tahu, Vi butuh ruang untuk sakit hatinya. sakit hati yang justru di sebabkan oleh ku.
sejujurnya aku masih ingin dia ada di sini. mendukungku mungkin. entah kenapa aku merasa nyaman saat dia ada di sampingku. dia sahabat yang istimewa itu saja mungkin. ya, dia memang istimewa. entah sejak kapan aku menyadarinya. mungkin sejak aku datang padanya ketika aku menyadari sekolah di asrama itu melelahkan. ya, aku dan Vi memang berasal dr sekolah yg sama. sebuah sekolah berasrama yang seperti aku bilang tadi, melelahkan. aku tahu sekolah itu melelahkan juga untuknya, tapi entah bagaimana gadis yg satu ini selalu bisa mendukungku dengan caranya sendiri.cara yang membuat dia semakin istimewa selama lebih dari tiga tahun hidupku. dan gadis yg istimewa itu kini.......................................................
"Vi, maaf." hanya itu yg bisa terucap di benakku.
aku sudah berada di bus itu, bus yang akan membawaku pulang. pulang ke kehidupan nyataku. sambil berharap bahwa apa yang terjadi sejak semalam hanyalah bagian dari mimpi buruk. tapi mimpi buruk itu meninggalkan luka. luka yang membuatku terus menitikkan air mata. dalam hati aku mengutuk Kris dengan segala sumpah serapah yang sempat terlintas di otakku. menyumpahi segala keputusannya, mengutuk segala kebodohannya. Kris senang sekali membuat kesulitan untuk dirinya sendiri. seolah hidupnya kurang masalah. demi Tuhan, aku pasti makhluk terbodoh di dunia kalau sampai gak tau untuk apa Kris menemui Bintang. aku tahu suatu saat lelaki ini harus menghadapi kenyataan bahwa Bintang memang sebuah bintang yangtak bisa lagi tergapai. tapi tidak sekarang. tidak saat Kris sendiri masih belum bisa menjaga hidupnya dan hatinya sendiri. dan tidak dengan menyakitiku seperti ini. tidak dengan membuatku merasa benar benar tak berarti.
"tapi dia tidak bermaksud menyakitimu, Vi." bisik hatiku
"aku tahu, tp tetap saja itu menyakitkan." bisikku sendiri.
"sudahlah, dia toh gak sengaja."
"sengaja atau tidak luka itu sudah ada"
"Vi........... bukankah sebaiknya kamu tetap di sana? menemaninya mungkin." bisik hatiku tiba tiba setelah kami terdiam lama
"mungkin, tapi aku sedang butuh waktu. dia sendiri yang ingin pergi. dia harus melewati ini sendiri, setidaknya sampai dia siap untuk kembali dan aku sendiri siap untuk menerimanya."
"dasar keras kepala kamu Vi. tapi terserahlah."
dan perdebatan hatiku berhenti seiring dengan kelelahanku.